Konsorsium AS-Jerman Incar Batam untuk Produksi Semi Konduktor
2 min read
Oplus_16908288
Batam, Nusantaratoday.net – Rencana masuknya perusahaan konsorsium Amerika dan Jerman ke Batam melalui PT Wiraraja GEISEP hingga kini belum juga terealisasi. Investasi yang digadang-gadang bakal mendorong Batam naik kelas di industri semikonduktor itu masih tersendat akibat persoalan lahan dan perizinan.
Direktur Politeknik Negeri Batam periode 2024–2028, Ir. Bambang Hendrawan, ST., MSM., CIPMP., CISCP, menilai peluang tersebut seharusnya disikapi serius. Menurut dia, Batam sedang berada di titik penting untuk menangkap momentum investasi industri masa depan yang kini diperebutkan banyak negara di Asia Tenggara.
“Momentum itu memang harus sekarang. Kebutuhan semikonduktor terus meningkat karena perkembangan AI, teknologi, energi baru terbarukan, kendaraan listrik, semuanya butuh chip,” ujar Bambang dalam wawancara dengan awak media.
Bambang mengatakan, jika investasi semikonduktor benar-benar masuk dan berjalan, dampaknya untuk Batam tidak akan kecil. Bukan hanya menghadirkan pabrik, tetapi juga membangun rantai pasok, ekosistem industri, hingga membuka lapangan kerja dalam skala besar. Ia menyebut industri semikonduktor dapat menjadi mesin baru pertumbuhan bagi Batam. Di tengah target pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Batam dinilai membutuhkan sektor dengan nilai tambah besar agar tidak terus bergantung pada industri lama.
“Kalau betul investasinya sampai ratusan triliun, multiplier effect-nya pasti jauh lebih besar. PDRB Batam bisa melesat kalau semuanya berjalan normal,” katanya.
Menurut Bambang, Batam sebenarnya memiliki modal awal yang cukup kuat untuk masuk lebih jauh ke industri ini. Selain letaknya strategis, Batam sudah memiliki basis industri elektronik dan SDM yang mulai disiapkan. Politeknik Negeri Batam sendiri, kata dia, sudah membuka program studi spesifik di bidang semikonduktor sejak 2017. Namun, peluang besar itu justru terancam lewat karena persoalan internal yang tak kunjung selesai.
“Sayang sekali kalau ada investor sudah mau menaruh uangnya, tapi kita masih ribut di dalam. Harusnya duduk bareng, cari solusi, supaya dari sisi pemerintah tetap terkendali, dari sisi prosedur tetap jalan, tapi investor juga bisa difasilitasi,” tegasnya. Ia mengingatkan, investor tidak bisa menunggu terlalu lama. Apalagi, negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, hingga India sedang agresif membangun ekosistem semikonduktor dengan insentif, lahan, dan kepastian regulasi yang jauh lebih siap.
Dalam pandangannya, Batam justru berisiko kalah sebelum bertanding jika persoalan lahan dan perizinan terus berlarut. Bukan tidak mungkin, investor yang semula melirik Batam beralih ke kawasan lain yang lebih siap, termasuk Johor, Malaysia. “Jangan sampai peluang yang ada gagal hanya gara-gara kita tidak bisa merembukannya dengan baik. Begitu mereka pindah, negara tujuan mereka akan makin kuat, sementara kita tetap di posisi sekarang,” ujarnya.
Bambang menilai, secara objektif dampak investasi ini sangat besar bagi Batam dan Indonesia. Sebab, selama ini posisi Indonesia dalam industri semikonduktor kawasan masih tertinggal jauh dibanding negara-negara ASEAN lain. Padahal, Indonesia memiliki bahan baku, jumlah penduduk besar, dan letak geografis strategis.
Karena itu, ia berharap persoalan yang menghambat realisasi investasi PT Wiraraja GEISEP bisa segera dimitigasi. Menurut dia, apa pun kendalanya, penyelesaiannya harus dipercepat agar Batam tidak kehilangan momentum untuk menjadi simpul baru industri semikonduktor nasional.
“Intinya, jangan sampai mereka pindah. Karena kalau itu terjadi, kita bukan cuma kehilangan investasi, tapi juga kehilangan kesempatan untuk naik kelas,” pungkasnya.(*)
