September 9, 2026

Media Terpercaya

Batam Darurat Sampah, Pengangkutan Lambat Membuat Warga Terpaksa Membakar

3 min read

Oplus_16908288

Batam, Nusantaratoday.net Tumpukan sampah menggunung di berbagai sudut Kota Batam. Mulai dari Batu Aji, Sagulung, Sekupang, Nongsa, Batam Kota hingga Lubuk Baja, warga mengeluhkan sampah yang tak kunjung diangkut. Di sisi lain, petugas kebersihan mengaku kewalahan karena keterbatasan armada operasional.

Persoalan itu terjadi di tengah status Batam sebagai kota industri dan investasi dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa. Kota yang menjadi pintu gerbang wisatawan mancanegara tersebut kini menghadapi persoalan mendasar, yakni pengelolaan sampah yang belum optimal.

Di Jalan Brigjen Katamso, Tanjung Uncang, Kecamatan Batu Aji, sedikitnya terdapat enam titik penumpukan sampah di sepanjang ruas jalan menuju Perumahan Putra Jaya. Di beberapa lokasi, tumpukan sampah membentang hingga sekitar 30 meter dan meluber ke badan jalan.

Kondisi serupa juga terlihat di Jalan Utama Sei Binti, Kecamatan Sagulung. Sampah rumah tangga menumpuk selama berminggu-minggu hingga akhirnya dibakar warga. Asap dari pembakaran plastik, kardus, limbah kelapa, dan sisa makanan mengganggu pengguna jalan serta mencemari udara.

Di Jalan Patimura, Kecamatan Nongsa, sampah rumah tangga juga memenuhi tepi jalan. Limbah yang membusuk mengeluarkan bau menyengat karena tidak segera diangkut.

Sementara itu, di Jalan Marina City, Sekupang, dua kontainer sampah tampak penuh. Kantong-kantong sampah terus bertambah hingga meluber keluar.

“Kondisi seperti ini sering terjadi. Kadang malam ada yang membakar sampah karena sudah terlalu penuh,” kata Doni, warga Perumahan Jupiter Marina, Sekupang.

Keluhan serupa datang dari kawasan Sukajadi, Batam Kota. Tong sampah di deretan Ruko Taman Niaga dipenuhi kantong plastik hingga meluber ke luar.

Fahri, pekerja di salah satu ruko, mengatakan frekuensi pengangkutan sampah kini jauh berkurang dibanding sebelumnya.

Berita lainnya  Wali Kota Batam Gelar Open House

“Kadang empat hari sekali, lima hari sekali, bahkan pernah sampai seminggu baru diangkut. Padahal kami tetap bayar retribusi Rp85 ribu setiap bulan,” ujarnya.

Di Sagulung, Al Farizi juga mengaku truk pengangkut sampah semakin jarang datang dalam beberapa bulan terakhir.

“Dulu seminggu dua kali. Sekarang kadang hanya sekali, bahkan pernah tidak datang sama sekali,” katanya.

Akibatnya, sebagian warga memilih membakar sampah untuk mengurangi volume tumpukan yang terus bertambah.

Persoalan juga terjadi di kawasan Pasar Jodoh, Lubuk Baja. Setelah sebelumnya menumpuk di dalam pasar, sampah kini dipindahkan ke depan Rumah Pompa Sungai Jodoh.

Namun, lokasi baru itu memunculkan kekhawatiran warga karena berada sangat dekat dengan aliran sungai.

“Kalau hujan deras, sampah ini bisa masuk ke sungai dan menyumbat pompa,” ujar Alwan, warga sekitar.

Di balik keluhan masyarakat, petugas kebersihan juga mengaku menghadapi keterbatasan armada.

Seorang petugas kebersihan yang bertugas di wilayah Nongsa dan enggan disebutkan namanya mengatakan satu truk harus melayani hingga delapan kawasan perumahan dengan target dua kali perjalanan setiap hari.

“Kami harus mengejar dua trip setiap hari. Kalau sampah menumpuk, masyarakat marah ke kami,” ujarnya.

Menurutnya, keterlambatan pengangkutan lebih banyak dipicu minimnya kendaraan yang layak beroperasi.

“Mobil banyak yang rusak. Kadang ban bocor, kami sendiri yang patungan memperbaikinya,” katanya.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kepulauan Riau, Lagat Parroha Patar Siadari, menilai persoalan sampah di Batam tidak semata-mata disebabkan perilaku masyarakat, tetapi juga akibat terbatasnya armada pengangkut milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Menurut Lagat, peremajaan kendaraan pengangkut sampah belum berjalan optimal selama beberapa tahun terakhir sehingga ritme pengangkutan dari kawasan permukiman menjadi semakin lambat.

Berita lainnya  Dukung Operasi Seligi, Jasa Raharja Tanjungpinang Bersama Tim Pembina Samsat Kijang Lakukan Operasi Dalrikwas

Berdasarkan informasi yang diterima Ombudsman dari DLH Batam, kebutuhan armada pengangkut mencapai sekitar 120 unit. Sebelum adanya penambahan armada, kendaraan yang aktif beroperasi hanya sekitar 30 unit. Setelah pemerintah menambah sekitar 14 unit, jumlah armada yang tersedia masih jauh dari kebutuhan ideal.

Akibat keterbatasan tersebut, pengangkutan sampah yang seharusnya dilakukan minimal dua kali dalam sepekan di sejumlah kawasan justru molor hingga 10 hari bahkan dua pekan sekali.

“Kalau sampah rumah tangga tidak diangkut lebih dari seminggu, masyarakat akhirnya mencari cara sendiri, termasuk membuang sembarangan atau membakarnya,” kata Lagat.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam, Dohar Mangalando Hasibuan dan Ketua Komisi III DPRD Kota Batam, Muhammad Rudi telah dihubungi melalui sambungan telepon dan pesan singkat, belum memberikan tanggapan hingga berita ini diterbitkan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ragam Berita Nusantara

3 min read

Batam, Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, memaparkan sejumlah capaian pembangunan Kota Batam dalam satu tahun enam bulan terakhir saat membuka Musyawarah Besar (Mubes) ke-3 Perkumpulan Keluarga Besar Sumatera Selatan (PKBSS) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Minggu (6/9/2026). Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Batam mencapai 6,76 persen, seiring dengan peningkatan investasi dan sejumlah indikator pembangunan lainnya. Dalam kegiatan yang berlokasi di Hotel S, Lubukbaja, tersebut, Amsakar mengajak warga Batam asal Sumatera Selatan (Sumsel) untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap daerah dan ikut berkontribusi dalam pembangunan Kota Batam. Amsakar mengapresiasi pelaksanaan Mubes PKBSS Kepri setelah dua periode kepemimpinan Taba Iskandar. Menurutnya, terdapat tiga hal penting yang menjadi esensi dalam musyawarah besar, yakni pertanggungjawaban pengurus sebelumnya, pemilihan pengurus baru, serta penyempurnaan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) apabila diperlukan. “Musyawarah harus dijalankan secara bijak, adil, dan penuh rasa kekeluargaan. Jangan sampai ada perselisihan yang berlebihan dalam proses menentukan arah organisasi,” ujar Amsakar. Ia juga menyoroti hubungan historis antara Sumatera Selatan dan Kepulauan Riau yang telah terjalin sejak era Bukit Siguntang. Menurutnya, kedekatan sejarah tersebut menjadi salah satu alasan penting bagi warga Batam asal Sumsel dan Kepri untuk membangun rasa memiliki terhadap daerah tempat mereka tinggal. Amsakar mengajak warga Batam asal Sumsel untuk tidak memandang diri hanya sebagai perantau. Ia berharap mereka dapat menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat Batam sehingga turut menjaga dan membangun kota. “Merasa sebagai orang Batam yang berasal dari Sumsel. Jadi, kita bersama-sama menjaga Batam,” pesannya. Di sisi lain, Amsakar mengingatkan bahwa paguyuban pada dasarnya merupakan wadah untuk memperkuat modal sosial dan membangun kepedulian antarsesama. Karena itu, keberadaan organisasi diharapkan lebih mengedepankan semangat saling membantu daripada kepentingan finansial. Pada kesempatan tersebut, Amsakar juga memaparkan sejumlah capaian pembangunan Batam dalam satu tahun enam bulan terakhir. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Batam mencapai 6,76 persen. Sementara itu, nilai investasi meningkat 115,5 persen, dari Rp60 triliun menjadi Rp69,3 triliun. Adapun realisasi investasi pada semester I disebut telah mendekati Rp30 triliun. Menurut Amsakar, peningkatan tersebut berjalan seiring dengan membaiknya sejumlah indikator pembangunan dan sektor pariwisata. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Batam meningkat dari 83,3 menjadi 83,8. Sektor pariwisata juga menunjukkan perkembangan positif. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) meningkat dari 1,3 juta menjadi 1,6 juta kunjungan. Sementara itu, kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) naik dari 1,7 juta menjadi 2,1 juta kunjungan. Amsakar menilai perkembangan tersebut tidak terlepas dari perhatian Pemerintah Pusat terhadap Batam. Ia menyebut Batam telah tiga kali dipanggil Presiden RI dan mendapat dukungan melalui penerbitan lima Peraturan Pemerintah (PP) untuk mempercepat pembangunan. “Kepercayaan dunia internasional terhadap Batam juga bisa kita lihat dari masuknya investasi dari sejumlah perusahaan global terkemuka seperti Dell, Nvidia, dan Firmus Technologies,” kata Amsakar. Ia juga menyampaikan bahwa pembangunan Batam sejauh ini mampu berjalan dengan mengandalkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), tanpa bergantung pada rupiah murni dari APBN maupun APBD. Menurut Amsakar, capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif antara pemerintah, masyarakat, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), DPRD, dan pelaku usaha. Mengakhiri sambutannya, Amsakar mengajak masyarakat untuk lebih bijak menggunakan media sosial. Ia mengingatkan warga agar tidak mudah terprovokasi oleh algoritma media sosial yang kerap memperbesar narasi negatif demi mengejar jumlah penonton. Ia juga mengimbau masyarakat tidak menyebarkan fitnah, hoaks, maupun narasi yang berpotensi memecah belah. Sebaliknya, ruang digital diharapkan diisi dengan konten yang produktif dan edukatif. (Humas Diskominfo Batam /rml008)

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.