September 8, 2026

Media Terpercaya

Disdik Batam Ingatkan Sekolah Tak Boleh Paksa Pembelian Seragam

2 min read

Oplus_16908288

Batam, Nusantaratoday.net –  Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam, Tri Wahyu Rubianto, menegaskan bahwa pihak sekolah tidak diperkenankan mewajibkan orang tua siswa membeli seragam di tempat tertentu, termasuk seragam olahraga dan batik yang umumnya dipesan khusus oleh sekolah.

Pernyataan ini disampaikan menyusul keluhan dari sejumlah orang tua siswa di salah satu SD negeri di kawasan Batam Center, yang mengaku harus membayar hingga Rp300 ribu untuk satu stel seragam olahraga atau batik. Harga ini dinilai terlalu mahal, karena di pasaran harga seragam serupa hanya berkisar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu.

Tri menjelaskan bahwa Disdik tidak mengatur harga seragam sekolah, namun sekolah dilarang mengambil keuntungan dari penjualan perlengkapan siswa.

“Untuk harga kami tidak mengatur sama sekali. Yang jelas, jangan sampai terlalu mahal karena sekolah hanya memfasilitasi, bukan untuk jualan,” tegas Tri, Senin (29/7).

Ia menekankan bahwa pembelian seragam sekolah bukanlah suatu kewajiban. Jika siswa memiliki seragam bekas milik saudara atau kerabat yang masih layak pakai dan sesuai ketentuan sekolah, maka siswa diperbolehkan menggunakannya.

“Kalau seandainya si anak ada pakaian saudaranya, maka bisa menggunakan pakaian itu tanpa harus membeli. Jadi sifatnya tidak wajib,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa sekolah tidak boleh menunjuk atau bekerja sama dengan toko tertentu dan memaksa orang tua membeli di tempat yang telah ditentukan. Orang tua, kata dia, memiliki kebebasan untuk membeli seragam di mana pun selama sesuai dengan desain dan ketentuan sekolah.

“Sekolah tidak boleh memaksa orang tua membeli di toko tertentu. Boleh beli di mana saja,” ujarnya.

Disdik Batam pun meminta seluruh sekolah untuk lebih transparan dan tidak memberatkan wali murid, terutama di masa-masa tahun ajaran baru ketika pengeluaran keluarga cukup tinggi.

Berita lainnya  Terbukti Selewengkan Gas Bersubsidi, 2 Pangkalan Gas di Batam Diberi Sanksi Pemutusan Hubungan Usaha

“Kami tidak ingin ada sekolah yang justru membebani orang tua. Sekolah harus jadi tempat yang membantu, bukan sebaliknya,” kata Tri. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ragam Berita Nusantara

3 min read

Batam, Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, memaparkan sejumlah capaian pembangunan Kota Batam dalam satu tahun enam bulan terakhir saat membuka Musyawarah Besar (Mubes) ke-3 Perkumpulan Keluarga Besar Sumatera Selatan (PKBSS) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Minggu (6/9/2026). Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Batam mencapai 6,76 persen, seiring dengan peningkatan investasi dan sejumlah indikator pembangunan lainnya. Dalam kegiatan yang berlokasi di Hotel S, Lubukbaja, tersebut, Amsakar mengajak warga Batam asal Sumatera Selatan (Sumsel) untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap daerah dan ikut berkontribusi dalam pembangunan Kota Batam. Amsakar mengapresiasi pelaksanaan Mubes PKBSS Kepri setelah dua periode kepemimpinan Taba Iskandar. Menurutnya, terdapat tiga hal penting yang menjadi esensi dalam musyawarah besar, yakni pertanggungjawaban pengurus sebelumnya, pemilihan pengurus baru, serta penyempurnaan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) apabila diperlukan. “Musyawarah harus dijalankan secara bijak, adil, dan penuh rasa kekeluargaan. Jangan sampai ada perselisihan yang berlebihan dalam proses menentukan arah organisasi,” ujar Amsakar. Ia juga menyoroti hubungan historis antara Sumatera Selatan dan Kepulauan Riau yang telah terjalin sejak era Bukit Siguntang. Menurutnya, kedekatan sejarah tersebut menjadi salah satu alasan penting bagi warga Batam asal Sumsel dan Kepri untuk membangun rasa memiliki terhadap daerah tempat mereka tinggal. Amsakar mengajak warga Batam asal Sumsel untuk tidak memandang diri hanya sebagai perantau. Ia berharap mereka dapat menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat Batam sehingga turut menjaga dan membangun kota. “Merasa sebagai orang Batam yang berasal dari Sumsel. Jadi, kita bersama-sama menjaga Batam,” pesannya. Di sisi lain, Amsakar mengingatkan bahwa paguyuban pada dasarnya merupakan wadah untuk memperkuat modal sosial dan membangun kepedulian antarsesama. Karena itu, keberadaan organisasi diharapkan lebih mengedepankan semangat saling membantu daripada kepentingan finansial. Pada kesempatan tersebut, Amsakar juga memaparkan sejumlah capaian pembangunan Batam dalam satu tahun enam bulan terakhir. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Batam mencapai 6,76 persen. Sementara itu, nilai investasi meningkat 115,5 persen, dari Rp60 triliun menjadi Rp69,3 triliun. Adapun realisasi investasi pada semester I disebut telah mendekati Rp30 triliun. Menurut Amsakar, peningkatan tersebut berjalan seiring dengan membaiknya sejumlah indikator pembangunan dan sektor pariwisata. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Batam meningkat dari 83,3 menjadi 83,8. Sektor pariwisata juga menunjukkan perkembangan positif. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) meningkat dari 1,3 juta menjadi 1,6 juta kunjungan. Sementara itu, kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) naik dari 1,7 juta menjadi 2,1 juta kunjungan. Amsakar menilai perkembangan tersebut tidak terlepas dari perhatian Pemerintah Pusat terhadap Batam. Ia menyebut Batam telah tiga kali dipanggil Presiden RI dan mendapat dukungan melalui penerbitan lima Peraturan Pemerintah (PP) untuk mempercepat pembangunan. “Kepercayaan dunia internasional terhadap Batam juga bisa kita lihat dari masuknya investasi dari sejumlah perusahaan global terkemuka seperti Dell, Nvidia, dan Firmus Technologies,” kata Amsakar. Ia juga menyampaikan bahwa pembangunan Batam sejauh ini mampu berjalan dengan mengandalkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), tanpa bergantung pada rupiah murni dari APBN maupun APBD. Menurut Amsakar, capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif antara pemerintah, masyarakat, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), DPRD, dan pelaku usaha. Mengakhiri sambutannya, Amsakar mengajak masyarakat untuk lebih bijak menggunakan media sosial. Ia mengingatkan warga agar tidak mudah terprovokasi oleh algoritma media sosial yang kerap memperbesar narasi negatif demi mengejar jumlah penonton. Ia juga mengimbau masyarakat tidak menyebarkan fitnah, hoaks, maupun narasi yang berpotensi memecah belah. Sebaliknya, ruang digital diharapkan diisi dengan konten yang produktif dan edukatif. (Humas Diskominfo Batam /rml008)

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.