September 8, 2026

Media Terpercaya

Pelaku Wisata Desak Perwako Kepariwisataan, Pemko Batam Pastikan Aturan Sedang Disusun

3 min read

Oplus_16908288

Batam, Nusantaratoday.net – Pelaku industri pariwisata di Batam mendesak Pemerintah Kota (Pemko) Batam segera menerbitkan Peraturan Wali Kota (Perwako) tentang Kepariwisataan. Regulasi tersebut dinilai mendesak untuk menata industri wisata yang kini menghadapi berbagai persoalan, mulai dari maraknya agen perjalanan ilegal, perang tarif, hingga lemahnya pengawasan.

Desakan itu mengemuka dalam forum diskusi yang digelar Forum Jurnalis Pariwisata (FJP) Kepulauan Riau di The Quadrant Hotel, Ocarina, Batam, Selasa (15/7). Forum mempertemukan pelaku usaha, asosiasi, akademisi, dan pemerintah daerah guna membahas tata kelola sektor pariwisata Batam.

Meski Batam menjadi penyumbang wisatawan mancanegara terbesar ketiga di Indonesia setelah Bali dan Jakarta, para pelaku usaha menilai tingginya angka kunjungan belum diimbangi dengan tata kelola industri yang sehat.

Perwakilan Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Kepri, Maryati, mengatakan persyaratan mendirikan usaha perjalanan wisata kini terlalu longgar. Menurutnya, seseorang cukup memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk menawarkan jasa perjalanan kepada wisatawan.

“Sekarang seolah siapa saja bisa menjadi travel agent. Bermodal NIB dan satu mobil pribadi saja sudah membawa tamu,” ujar Maryati.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan beberapa tahun lalu ketika biro perjalanan diwajibkan berbadan hukum, memiliki kantor operasional, modal usaha yang jelas, serta memenuhi standar pelayanan tertentu.

Menurutnya, longgarnya persyaratan memicu persaingan usaha yang tidak sehat. Pelaku usaha resmi yang telah memenuhi berbagai ketentuan harus bersaing dengan agen tidak berizin yang menawarkan tarif jauh lebih murah.

Senada dengan itu, Sekretaris Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Kepri, Syauqi, mengatakan praktik agen perjalanan ilegal masih mudah ditemukan, terutama di kawasan Pelabuhan Internasional Batam Centre.

“Penjemputan wisatawan menggunakan kendaraan pelat hitam oleh agen yang tidak memiliki izin hampir setiap hari terlihat. Pengawasannya masih lemah,” katanya.

Berita lainnya  Pemko Batam Terima Rp 4,8 Miliar Uang Pengganti Aset Korupsi Muhammad Nashihan

Ia menilai kondisi tersebut tidak hanya merugikan pelaku usaha resmi, tetapi juga meningkatkan risiko bagi wisatawan karena tidak adanya jaminan standar pelayanan maupun perlindungan hukum.

Dampak persoalan tersebut juga dirasakan sektor perhotelan.

Perwakilan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Batam, Ahmad Damanik, mengatakan belum adanya aturan mengenai kerja sama hotel dengan biro perjalanan menyebabkan tarif khusus (agent rate) kerap dinikmati pihak yang tidak memiliki izin resmi.

“Hotel akhirnya memberikan harga khusus kepada siapa saja yang membawa tamu. Akibatnya terjadi perang harga dan margin hotel terus tertekan,” ujarnya.

Menurut Ahmad, kondisi itu berpotensi menurunkan kualitas layanan karena pelaku usaha harus memangkas biaya operasional agar tetap mampu bersaing.

Pemko: Perwako Sedang Digodok

Menanggapi aspirasi tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, membenarkan bahwa Pemko Batam tengah menyusun Perwako tentang penyelenggaraan perjalanan wisata.

“Perwako tentang perjalanan wisata memang sedang kami godok. Masih dalam proses karena harus disesuaikan dengan regulasi yang lebih tinggi,” kata Ardiwinata, Kamis (16/7).

Menurutnya, penyusunan regulasi dilakukan bersama Bagian Hukum Setdako Batam agar selaras dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan beserta ketentuan turunannya.

Ardi mengakui berbagai persoalan yang disampaikan pelaku industri memang terjadi di lapangan.

“Bukan hanya mendengar laporan. Saya sendiri beberapa kali menangani kasus-kasus itu,” ujarnya.

Ia mencontohkan sejumlah persoalan seperti sengketa pemesanan hotel, dugaan penggelapan pembayaran, hingga konflik antara agen perjalanan lokal dan luar negeri yang bahkan melibatkan wisatawan maupun agen dari Malaysia.

Menurutnya, Perwako nantinya akan mengatur berbagai aspek teknis penyelenggaraan perjalanan wisata, mulai dari penggunaan pemandu wisata bersertifikat, kendaraan wisata, hingga standar pelayanan kepada wisatawan.

Berita lainnya  Pengojek Online Silaturahmi ke Kediaman Rudi – Marlin

Tim Perumus Dibentuk

Forum tersebut juga menyepakati pembentukan Tim Perumus Perwako Kepariwisataan Batam yang akan menyusun naskah akademik sebagai dasar penyusunan regulasi.

Tim diketuai Ketua DPD ASITA Kepri, Eva Betty, dengan Surya Wijaya sebagai wakil ketua dan akademisi Batam Tourism Polytechnic, Eva Amalia, sebagai sekretaris.

Eva Amalia menilai penyusunan regulasi harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan agar aturan yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan industri.

“Regulasi tidak boleh hanya dibuat dari atas. Harus lahir dari kebutuhan pelaku usaha sekaligus mampu memberikan perlindungan kepada wisatawan,” katanya.

Tim tersebut ditargetkan segera menyerahkan naskah akademik kepada Wali Kota Batam sebagai langkah awal penyusunan Perwako Kepariwisataan.

Pelaku industri berharap regulasi tersebut menjadi pijakan pembenahan tata kelola pariwisata Batam, sehingga praktik usaha ilegal dapat ditekan, persaingan usaha menjadi lebih sehat, dan kepercayaan wisatawan terhadap Batam sebagai destinasi internasional semakin meningkat.(*)

More Stories

3 min read

Batam, Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, memaparkan sejumlah capaian pembangunan Kota Batam dalam satu tahun enam bulan terakhir saat membuka Musyawarah Besar (Mubes) ke-3 Perkumpulan Keluarga Besar Sumatera Selatan (PKBSS) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Minggu (6/9/2026). Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Batam mencapai 6,76 persen, seiring dengan peningkatan investasi dan sejumlah indikator pembangunan lainnya. Dalam kegiatan yang berlokasi di Hotel S, Lubukbaja, tersebut, Amsakar mengajak warga Batam asal Sumatera Selatan (Sumsel) untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap daerah dan ikut berkontribusi dalam pembangunan Kota Batam. Amsakar mengapresiasi pelaksanaan Mubes PKBSS Kepri setelah dua periode kepemimpinan Taba Iskandar. Menurutnya, terdapat tiga hal penting yang menjadi esensi dalam musyawarah besar, yakni pertanggungjawaban pengurus sebelumnya, pemilihan pengurus baru, serta penyempurnaan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) apabila diperlukan. “Musyawarah harus dijalankan secara bijak, adil, dan penuh rasa kekeluargaan. Jangan sampai ada perselisihan yang berlebihan dalam proses menentukan arah organisasi,” ujar Amsakar. Ia juga menyoroti hubungan historis antara Sumatera Selatan dan Kepulauan Riau yang telah terjalin sejak era Bukit Siguntang. Menurutnya, kedekatan sejarah tersebut menjadi salah satu alasan penting bagi warga Batam asal Sumsel dan Kepri untuk membangun rasa memiliki terhadap daerah tempat mereka tinggal. Amsakar mengajak warga Batam asal Sumsel untuk tidak memandang diri hanya sebagai perantau. Ia berharap mereka dapat menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat Batam sehingga turut menjaga dan membangun kota. “Merasa sebagai orang Batam yang berasal dari Sumsel. Jadi, kita bersama-sama menjaga Batam,” pesannya. Di sisi lain, Amsakar mengingatkan bahwa paguyuban pada dasarnya merupakan wadah untuk memperkuat modal sosial dan membangun kepedulian antarsesama. Karena itu, keberadaan organisasi diharapkan lebih mengedepankan semangat saling membantu daripada kepentingan finansial. Pada kesempatan tersebut, Amsakar juga memaparkan sejumlah capaian pembangunan Batam dalam satu tahun enam bulan terakhir. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Batam mencapai 6,76 persen. Sementara itu, nilai investasi meningkat 115,5 persen, dari Rp60 triliun menjadi Rp69,3 triliun. Adapun realisasi investasi pada semester I disebut telah mendekati Rp30 triliun. Menurut Amsakar, peningkatan tersebut berjalan seiring dengan membaiknya sejumlah indikator pembangunan dan sektor pariwisata. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Batam meningkat dari 83,3 menjadi 83,8. Sektor pariwisata juga menunjukkan perkembangan positif. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) meningkat dari 1,3 juta menjadi 1,6 juta kunjungan. Sementara itu, kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) naik dari 1,7 juta menjadi 2,1 juta kunjungan. Amsakar menilai perkembangan tersebut tidak terlepas dari perhatian Pemerintah Pusat terhadap Batam. Ia menyebut Batam telah tiga kali dipanggil Presiden RI dan mendapat dukungan melalui penerbitan lima Peraturan Pemerintah (PP) untuk mempercepat pembangunan. “Kepercayaan dunia internasional terhadap Batam juga bisa kita lihat dari masuknya investasi dari sejumlah perusahaan global terkemuka seperti Dell, Nvidia, dan Firmus Technologies,” kata Amsakar. Ia juga menyampaikan bahwa pembangunan Batam sejauh ini mampu berjalan dengan mengandalkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), tanpa bergantung pada rupiah murni dari APBN maupun APBD. Menurut Amsakar, capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif antara pemerintah, masyarakat, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), DPRD, dan pelaku usaha. Mengakhiri sambutannya, Amsakar mengajak masyarakat untuk lebih bijak menggunakan media sosial. Ia mengingatkan warga agar tidak mudah terprovokasi oleh algoritma media sosial yang kerap memperbesar narasi negatif demi mengejar jumlah penonton. Ia juga mengimbau masyarakat tidak menyebarkan fitnah, hoaks, maupun narasi yang berpotensi memecah belah. Sebaliknya, ruang digital diharapkan diisi dengan konten yang produktif dan edukatif. (Humas Diskominfo Batam /rml008)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ragam Berita Nusantara

3 min read

Batam, Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, memaparkan sejumlah capaian pembangunan Kota Batam dalam satu tahun enam bulan terakhir saat membuka Musyawarah Besar (Mubes) ke-3 Perkumpulan Keluarga Besar Sumatera Selatan (PKBSS) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Minggu (6/9/2026). Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Batam mencapai 6,76 persen, seiring dengan peningkatan investasi dan sejumlah indikator pembangunan lainnya. Dalam kegiatan yang berlokasi di Hotel S, Lubukbaja, tersebut, Amsakar mengajak warga Batam asal Sumatera Selatan (Sumsel) untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap daerah dan ikut berkontribusi dalam pembangunan Kota Batam. Amsakar mengapresiasi pelaksanaan Mubes PKBSS Kepri setelah dua periode kepemimpinan Taba Iskandar. Menurutnya, terdapat tiga hal penting yang menjadi esensi dalam musyawarah besar, yakni pertanggungjawaban pengurus sebelumnya, pemilihan pengurus baru, serta penyempurnaan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) apabila diperlukan. “Musyawarah harus dijalankan secara bijak, adil, dan penuh rasa kekeluargaan. Jangan sampai ada perselisihan yang berlebihan dalam proses menentukan arah organisasi,” ujar Amsakar. Ia juga menyoroti hubungan historis antara Sumatera Selatan dan Kepulauan Riau yang telah terjalin sejak era Bukit Siguntang. Menurutnya, kedekatan sejarah tersebut menjadi salah satu alasan penting bagi warga Batam asal Sumsel dan Kepri untuk membangun rasa memiliki terhadap daerah tempat mereka tinggal. Amsakar mengajak warga Batam asal Sumsel untuk tidak memandang diri hanya sebagai perantau. Ia berharap mereka dapat menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat Batam sehingga turut menjaga dan membangun kota. “Merasa sebagai orang Batam yang berasal dari Sumsel. Jadi, kita bersama-sama menjaga Batam,” pesannya. Di sisi lain, Amsakar mengingatkan bahwa paguyuban pada dasarnya merupakan wadah untuk memperkuat modal sosial dan membangun kepedulian antarsesama. Karena itu, keberadaan organisasi diharapkan lebih mengedepankan semangat saling membantu daripada kepentingan finansial. Pada kesempatan tersebut, Amsakar juga memaparkan sejumlah capaian pembangunan Batam dalam satu tahun enam bulan terakhir. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Batam mencapai 6,76 persen. Sementara itu, nilai investasi meningkat 115,5 persen, dari Rp60 triliun menjadi Rp69,3 triliun. Adapun realisasi investasi pada semester I disebut telah mendekati Rp30 triliun. Menurut Amsakar, peningkatan tersebut berjalan seiring dengan membaiknya sejumlah indikator pembangunan dan sektor pariwisata. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Batam meningkat dari 83,3 menjadi 83,8. Sektor pariwisata juga menunjukkan perkembangan positif. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) meningkat dari 1,3 juta menjadi 1,6 juta kunjungan. Sementara itu, kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) naik dari 1,7 juta menjadi 2,1 juta kunjungan. Amsakar menilai perkembangan tersebut tidak terlepas dari perhatian Pemerintah Pusat terhadap Batam. Ia menyebut Batam telah tiga kali dipanggil Presiden RI dan mendapat dukungan melalui penerbitan lima Peraturan Pemerintah (PP) untuk mempercepat pembangunan. “Kepercayaan dunia internasional terhadap Batam juga bisa kita lihat dari masuknya investasi dari sejumlah perusahaan global terkemuka seperti Dell, Nvidia, dan Firmus Technologies,” kata Amsakar. Ia juga menyampaikan bahwa pembangunan Batam sejauh ini mampu berjalan dengan mengandalkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), tanpa bergantung pada rupiah murni dari APBN maupun APBD. Menurut Amsakar, capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif antara pemerintah, masyarakat, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), DPRD, dan pelaku usaha. Mengakhiri sambutannya, Amsakar mengajak masyarakat untuk lebih bijak menggunakan media sosial. Ia mengingatkan warga agar tidak mudah terprovokasi oleh algoritma media sosial yang kerap memperbesar narasi negatif demi mengejar jumlah penonton. Ia juga mengimbau masyarakat tidak menyebarkan fitnah, hoaks, maupun narasi yang berpotensi memecah belah. Sebaliknya, ruang digital diharapkan diisi dengan konten yang produktif dan edukatif. (Humas Diskominfo Batam /rml008)

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.